liputan6com. Masjid Istiqlal di Jakarta ini di bangun di atas sebuah lahan seluas 9.32 hektar yang dulunya berupa taman wilhelmina, tidak jauh dari masjid Istiqlal ini juga berdiri sebuah monumen penting bangsa Indonesia yaitu Monumen Nasional (Monas) Masjid Istiqlal di bangun pada tanggal 24 Agustus 1951 yang di prakarsai oleh presiden
MasjidIstiqlal (arti harfiah: Masjid Merdeka) adalah masjid nasional negara Republik Indonesia yang terletak di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut Lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas), di pusat ibu kota Jakarta.Masjid ini merupakan salah satu dari 10 masjid terbesar kapasitasnya di dunia yang dapat menampung lebih dari 200.000 jemaah.
Pendirianmasjid Istiqlal tergagas pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada 1950. Melansir dari seminar.iplbi.or.id, pada saat itu, dilaksanakan pertemuan sejumlah tokoh Islam, yang dipimpin oleh KH Taufiqurrahman untuk membahas pembangunan masjid tersebut hingga terbentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).
PendidikanKader Ulama. Masjid Istiqlal. (PKU-MI) Melahirkan kader ulama yang berakhlak mulia dan berpandangan moderat sehingga dapat menjadi rujukan umat, baik tingkat lokal, nasional maupun internasional serta menguasai khazanah Islam klasik dan ilmu pengetahuan modern dari berbagai disiplin sehingga mampu menjawab isu-isu kontemporer.
SRIPOKUCOM, PALEMBANG - Gubernur Sumsel H Herman Deru mengatakan, program Safari Jumat merupakan salah satu sarana untuk melihat langsung kondisi masyarakat sekitar masjid. Termasuk juga memantau kondisi jalan, sistem drainase dan lainnya. Untuk itu, Herman Deru rutin Safari Jumat berkeliling di Kota Bumi Sriwijaya. "Dengan Safari Jumat ini, selain beribadah bersama masyarakat, kita juga bisa
8URf. Duta Besar AS untuk Indonesia Sung Y. Kim dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar meresmikan berdirinya fasilitas American Space di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa 6/6/2023. Itu menjadi American Space pertama yang didirikan AS di dalam masjid. Dok Kedutaan Besar AS di Jakarta JAKARTA - Duta Besar Dubes Amerika Serikat AS untuk Indonesia Sung Y Kim telah meresmikan fasilitas American Space di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa 6/6/2023. Ini menjadi American Space pertama yang dihadirkan atau didirikan di dalam masjid. Dalam acara peresmian berupa pengguntingan pita, Sung Y Kim turut didampingi Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar. Dalam pembentukan American Space tersebut, AS menjalin kerja sama dengan Voice of Istiqlal VoIST. “Fasilitas American Space di Istiqlal ini terbuka untuk siapa saja dan menjadi sarana bagi warga Muslim maupun non-Muslim di Indonesia yang tertarik untuk berdialog dan bekerja sama. Ini akan menjadi wadah bagi komunitas lokal berdiskusi masalah global dan nilai-nilai yang dianur bersama antara masyarakat Indonesia dan AS,” kata Dubes Sung Y Kim seperti dikutip dalam keterangan yang dirilis Kedutaan Besar AS di Jakarta. Sementara itu, Nasaruddin Umar mengungkapkan, fasilitas American Space akan di Masjid Istiqlal akan menjadi sarana memperkuat hubungan antara AS dan Indonesia. “Kami melihat Istiqlal siap untuk menjadi pusat peradaban Islam, identitas nasional, dan simbol kemajuan masyarakat Indonesia yang akan mempromosikan dialog lintas agama dan Islam moderat, dengan tujuan memperkuat hubungan antara Timur dan Barat,” ucapnya. Dengan hadirnya American Space terbaru di Masjid Istiqlal, AS telah mendirikan 12 fasilitas serupa di seluruh Indonesia. Program-program American Space berfokus pada lima bidang, yaitu pembelajaran dan pelatihan guru bahasa Inggris, konsultasi pendidikan dan promosi studi di AS, jejaring, proyek dan kegiatan alumni, program kebudayaan dan penjangkauan, serta informasi umum mengenai AS. Di Istiqlal, American Space menempati ruang besar dan fleksibel di dalam perpustakaan masjid. Sarana untuk menunjang kegiatan seperti komputer, proyektor, dan layar turut disediakan. Pengunjung juga dapat mengakses koleksi buku, jurnal, dan sumber informasi lainnya. Fasilitas American Space di Masjid Istiqlal dapat menampung sekitar 40 pengunjung untuk program tatap muka. Kegiatan penjangkauannya akan fokus pada demokrasi, hak asasi manusia, keberagaman, serta mempromosikan pendidikan dan peningkatan keterampilan untuk pemuda usia 18-35 tahun. American Space juga akan menjadi sarana untuk mempelajari seluk beluk nilai, gagasan, dan budaya Amerika. Selain itu, American Space turut menjadi pusat informasi untuk peluang program pertukaran ke AS. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini
Jakarta - Masjid Istiqlal adalah masjid terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Masjid ini dikenal sebagai salah satu ikon ibu kota Jakarta, yang lokasinya berseberangan dengan Gereja Katedral dan Gereja sejarah bangsa Indonesia, Masjid Istiqlal menjadi sebuah bangunan yang memiliki berbagai nilai penting, seperti nilai ilmu pengetahuan, pendidikan, dan seperti apa sejarah Masjid Istiqlal di Jakarta? Berikut ini ulasannya dikutip dari laman resmi pendirian Masjid Istiqlal pertama kali dicetuskan oleh Mentri Agama RI pertama, KH. Wahid Hasyim dan beberapa ulama saat kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, tercetus cita-cita untuk membangun sebuah masjid yang mampu menjadi simbol bagi tahun 1953, KH. Wahid Hasyim bersama H. Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir. Sofwan dan dibantu sekitar 200 tokoh Islam pimpinan KH. Taufiqorrahman mengusulkan untuk mendirikan sebuah pada tanggal 7 Desember 1954 didirikanlah yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai oleh H. Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional H. Tjokroaminoto menyampaikan rencana pembangunan masjid pada presiden Ir. Soekarno. Usulan tersebut mendapatkan sambutan hangat dan akan mendapat bantuan sepenuhnya dari Presiden RI pertama itu, Ir. Soekarno juga sekaligus diangkat menjadi kepala bagian teknik pembangunan Masjid Istiqlal dan ketua dewan juri untuk menilai sayembara maket Istiqlal. Dikutip dari detiknews, sumber lain menyebutkan, ide pembangunan sebuah masjid besar di ibukota sudah muncul bahkan sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Karno menyebut suatu waktu di tahun 1944 sejumlah ulama dan pemimpin Islam menemuinya di Pegangsaan Timur 56 yang saat itu merupakan rumah kediamannya. Ulama-ulama tersebut mengajaknya mendirikan sebuah masjid besar di ulama memberi jaminan pada Bung Karno bahwa mereka bisa mengumpulkan biaya pembangunan. Mereka bahkan menyebut sudah ada dana awal sebesar 500 itu sudah banyak calon donatur yang menyatakan komitmen untuk memberi sumbangan dalam bentuk kayu, genteng, kapur, dan bahan-bahan bangunan Karno saat itu menyatakan ide pembangunan tak bisa dieksekusi hanya dengan sumber daya terbatas seperti yang dikutip dari buku biografi Friedrich Silaban. Saat itu, Soekarno membayangkan masjid besar yang nantinya dibangun harus kuat."Marilah kita membuat Masjid Jami yang bisa tahan seribu tahun dan marilah kita agar supaya mendirikan Masjid Jami yang tahan seribu tahun itu, janganlah berpikir dalam istilah kayu dan istilah genteng, jangan kita membikin masjid yang seperti masjid di Cianjur atau Cipanas atau Sukabumi atau kota-kota kecil. Ini Masjid Jami kota Jakarta."Menurut Bung Karno, sebuah masjid besar di ibukota tak bisa sekedar dibangun dengan kayu dan genteng yang dikemudian hari bisa rubuh diterjang lapuk."Marilah kita membuat Masjid Jami yang benar-benar tahan cakaran masa, seribu tahun, dua ribu tahun, dan untuk itu kita harus membuatnya dari besi, dari beton, pintunya dari perunggu, dari batu pualam, dan lain-lain sebagainya."Pasca kemerdekaan pun persiapan pembangunan menyita waktu. Penetapan pemenang rancangan bangunan baru terjadi pada 1956. Saat pengumuman pemenang 3 April 1956 malam di Istana Negara diadakan juga pemungutan sumbangan-sumbangan secara pertemuan mencapai klimaksnya setelah Bung Karno maju ke mimbar untuk mengumumkan nyonya Ali Sastroamidjojo atau Titi Roelia akan menyumbangkan suatu nyanyian. Suara Nyonya Ali akan dibeli pengusaha Agus Musin Dasaad, pemilik Dasaad Musin Concern sebesar Rp 100 Masjid Istiqlal baru benar-benar bisa terwujud lima tahun setelah rancangan Soekarno-Hatta Soal Lokasi Masjid IstiqlalMasjid yang beralamat di Jl. Taman Wijaya Kusuma, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, dulu sempat membuat Soekarno dan Hatta Karno dan Bung Hatta yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI, berdebat soal penentuan lokasi Karno mengusulkan lokasi Masjid Istiqlal di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di Jalan Thamrin, yang pada saat itu banyak dikelilingi kampung-kampung di akhirnya Presiden Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda. Karena di seberangnya telah berdiri gereja Kathedral dengan tujuan untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Mulai Tahun 1961Setelah ditentukan lokasi, baru pada tanggal 24 Agustus 1961, pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden tersebut bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pemancangan tiang pertama turut disaksikan oleh ribuan umat Islam."Masjid Istiqlal akan mencakar langit dan kukuh buatannya dan setiap orang yang datang di masjid itu nanti akan berkata Wah alangkah hebatnya masjid ini dan sudah tentu dibangun oleh bangsa yang besar jiwanya," ujar Bung Karno dalam acara pemancangan tiang proses pembangunannya, Masjid Istiqlal mengalami banyak persoalan. Selama lima tahun pertama dari 1961 hingga 1965, pembangunan tidak mengalami banyak masjid tersendat karena situasi politik yang kurang kondusif. Puncaknya terjadi pada tahun 1965 saat meletus peristiwa G30S/PKI. Hal ini kemudian mengakibatkan pembangunan masjid 17 Tahun KemudianPada tahun 1966, setelah situasi politik mereda, Menteri Agama KH. Muhammad Dahlan mempelopori kembali pembangunan masjid dipegang oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid berjalan tujuh belas tahun sejak 24 Agustus 1961, akhirnya Masjid Istiqlal selesai dibangun. Masjid Istiqlal kemudian diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari masjid ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam. Diketahui, biaya pembangunan Masjid Istiqlal mencapai Rp 7 miliar diperoleh terutama dari APBN dan US$ 12 juta. Simak Video "Suasana Salat Tarawih Hari Pertama di Masjid Istiqlal" [GambasVideo 20detik] faz/pal
First opened to the public by Indonesia’s first President, Soekarno, on 22 February 1978, the grand Istiqlal Mosque of Jakarta is the largest mosque in Southeast Asia both in structure and capacity, as it can accommodate congregations of up to 120,000 people. Most of the Islamic celebrations in Indonesia, such as Ied prayer, are also broadcast from this mosque. The Mosque is located at Jalan Taman Wijaya Kusuma in Central Jakarta, on the north eastern corner of the Merdeka Square. It Stands almost right across the old Catholic Church at the corner of Jalan Lapangan Banteng. These landmarks represent the nation’s acceptance of religious diversity. History of the Mosque The Istiqlal Mosque was designed in 1954 by Frederich Silaban, a Christian architect from North Sumatra. To build the mosque, it took 17 years. Built under Sukarno's administration, the construction was personally supervised by the president himself. The idea for the need of a national mosque was inspired by Muslim leader KH Wahid Hashim and executed by Cokro Aminoto, then minister for religious affairs. The word Istiqlal comes from Arabic that means "Independence." The name is a reminder of Indonesia’s struggle for national Independence and the Istiqlal was built to memorialize it. An Admirable Architecture Design As one of the remarkable buildings that beautify Central Jakarta’s cityscape, the Istiqlal Mosque inspires with its enormity and contemporary design. The building of the mosque covers approximately nine hectares 22 acres and has five levels in total. Much of the structure is clad in marble from East Java. The mosque has a large rectangular prayer hall with a 45 meter diameter dome supported by 12 round columns, and has 4 levels of balconies. Its interior is mostly simple but represents the luxury of the mosque itself. No wonder most of the jama’ah who come to pray there will take some of their time to take some pictures inside and outside of the mosque as a way to appreciate the beauty of the building itself. The mosque’s main prayer hall will also make you gaze in awe at the beauty of it. There are also four tiers of balconies surrounding the hall of the main prayer hall of Isitiqlal mosque. When looking for the mihrab, a niche that marks the mosque’s closest point to Mecca. There are also some of the Arabic calligraphies, which spell the names of Allah and Muhammed that perfect the beauty of the main prayer hall. Running from the main hall are a series of arcades connecting to an open-air courtyard. Look up at the soaring minaret, which transmits the call to prayer every day. Located beyond the southern corner of the courtyard are a fountain and pool. The fountain projects water during important Islamic ceremonies and holidays. World’s Leader Visit In his brief 18 hours visit to Indonesia on 9th and 10th November 2010, US President Obama and First Lady Michelle Obama made a special visit to the Istiqlal Mosque. An aside note which the President heard from the leader of the mosque, and which he relayed to the press, was that during Christmas mass, the mosque’s parking lot is used by the Cathedral’s congregation across the road. And vice-versa during Ied prayers. Later, President Obama praised the Istiqlal Mosque as a symbol of religious tolerance which characterizes Indonesia and Indonesians, inspiring the world. Although non-Muslims aren't allowed to enter the main prayer hall, it's possible for everyone to visit the impressive upper hallways and terraces. Get There The grand Istiqlal Mosque of Jakarta is easy to reach since it is near the Gambir Train Station. To get here from the Sukarno-Hatta international airport, you can use public transportation such as "Metromini" or Transjakarta bus in the direction to Gambir. From Gambir you can use a motorbike taxi commonly known as "ojek", or, if you prefered to, you can walk to this mosque. To enter the mosque, there are seven entrances that you can go through. Each of the entrance symbolizes one of the Seven Heavens of Islam. Before entering the building, jamaah or worshippers need to take off their shoes. The mosque is open daily and there is no admission fee to enter. Guides are available to show non-Muslim visitors around the mosque.